Tim mahasiswa Teknik Elektro Univeristas Sebelas Maret (UNS) melalui Program Hibah Pembelajaran Berdampak (Jarpak) bidang Pengabdian Masyarakat UNS 2026 berhasil merancang dan mengembangkan Mesin Pengolah Sampah Organik untuk mendukung budidaya maggot di Desa Ngentak, Bulakrejo, Sukoharjo. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tantangan pengelolaan limbah organik rumah tangga yang selama ini masih dilakukan secara konvensional dan membutuhkan waktu pengolahan cukup lama sebelum dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Melalui program hibah tersebut, tim melakukan serangkaian proses identifikasi kebutuhan masyarakat, perancangan mekanik, fabrikasi alat, hingga pengujian mesin agar sesuai dengan kebutuhan. Mesin yang dikembangkan berupa alat pencacah sampah organik yang mampu menghaluskan berbagai jenis limbah organik menjadi ukuran yang lebih kecil dan lembut sehingga lebih mudah dikonsumsi oleh maggot.
Mesin ini menggunakan komponen pencacah berbahan logam dengan konstruksi yang kuat dan dirancang untuk bekerja secara berkelanjutan pada lingkungan budidaya. Sistem penggeraknya memanfaatkan motor listrik 1 fasa berdaya 3/4 HP yang dipilih dengan mempertimbangkan kondisi infrastruktur kelistrikan di desa yang umumnya hanya tersedia jaringan listrik 1 fasa. Mesin ini mampu mencacah sampah organik secara efektif hingga menjadi lebih halus dibandingkan perlakuan sebelumnya yang mengandalkan proses perendaman selama beberapa jam sebelum diberikan kepada maggot.
Proses pencacahan ini memberikan manfaat terhadap efisiensi pengelolaan sampah organik. Material organik yang telah dihaluskan memungkinkan maggot mengonsumsi dan menguraikan sampah lebih cepat sehingga mempercepat siklus budidaya sekaligus mengurangi waktu persiapan pakan. Selain meningkatkan efisiensi pengolahan limbah, hasil budidaya maggot juga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif yang mendukung keberlanjutan sektor budidaya ikan dan unggas di masyarakat.
Program Hibah Pembelajaran Berdampak ini berlangsung dari Maret 2026 hingga Juli 2026 di bawah bimbingan Ir. Sutrisno, S.T., M.Sc., Ph.D. Tim pengembang terdiri dari 10 mahasiswa Teknik Elektro UNS Angkatan 2023, yakni Aisyah Alfi Fadhillah selaku ketua tim, serta Alfredo Galdika, Adam Bagus Agitya Putra, Diya’ Nasaban Ismail, Muhammad Dony Abzar Siregar, Hiskia Garnet, Fukas Laksito, Alfa Fabela Yudhistira, Hindaam Malaimal, dan Roisa Hari Wijaya.
Setelah proses pengembangan dan pengujian alat selesai dilakukan, tim melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat Desa Ngentak sebagai pengguna utama teknologi. Pelatihan mencakup prosedur pengoperasian mesin, teknik perawatan rutin, aspek keselamatan penggunaan, serta strategi pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik dalam sistem budidaya maggot yang berkelanjutan. Tim juga memberikan pendampingan pada tahap awal implementasi untuk memastikan alat dapat digunakan secara mandiri dan optimal oleh masyarakat.
Perwakilan masyarakat Desa Ngentak, Riski Bagus, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa UNS. Ia berharap keberadaan mesin ini dapat membantu masyarakat dalam mengelola limbah organik secara lebih praktis sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis budidaya. “Kami berharap alat ini dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat, membantu mengurangi penumpukan sampah organik, serta mendukung budidaya maggot yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ikan dan unggas,” ujarnya.
Sementara itu, Ir. Sutrisno, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi teknologi tepat guna yang dikembangkan mahasiswa untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung. “Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Melalui pengolahan limbah organik dan pemanfaatannya dalam budidaya maggot, diharapkan tercipta sistem yang lebih efisien, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi,” jelasnya.
Ke depannya, tim berharap inovasi mesin pengolah sampah organik ini dapat menjadi model penerapan teknologi tepat guna bagi desa-desa lain yang memiliki potensi serupa. Pengembangan lebih lanjut juga diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 – Responsible Consumption and Production melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan pemanfaatan sumber daya secara efisien, serta SDG 17 – Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan limbah rumah tangga dapat terintegrasi dengan sektor budidaya seperti ikan dan unggas sehingga menciptakan siklus ekonomi sirkular yang lebih mandiri dan berkelanjutan.