SOLO – Budidaya jamur tiram menjadi salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan masyarakat di wilayah perdesaan. Selain dapat dilakukan pada ruang yang relatif terbatas dibandingkan pertanian konvensional, budidaya jamur tiram juga berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumahan untuk mendukung pendapatan keluarga. Namun, keberhasilan budidaya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kumbung, terutama suhu dan kelembapan yang perlu dipantau secara rutin.
Melihat kebutuhan tersebut, Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui program kemitraan masyarakat (PKM) mengembangkan sistem monitoring budidaya jamur tiram berbasis Internet of Things (IoT) di Dukuh Prayunan, Desa Sidodadi, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Program yang didanai melalui RKAT UNS tersebut dikembangkan oleh Dr. Ir. Hari Maghfiroh, S.T., M.Eng., M.Sc. sebagai ketua riset, bersama Dr. Ir. Miftahul Anwar, S.Si., M.Eng. dan Ir. Joko Slamet Saputro, S.Pd., M.T., serta melibatkan mahasiswa Teknik Elektro UNS.
Sistem pintar ini disusun oleh mikrokontroler (ESP32) yang terhubung dengan sensor suhu serta kelembapan (SHT40) untuk membaca parameter lingkungan kumbung secara real-time. Data hasil pengukuran kemudian ditampilkan melalui LCD di lokasi serta dashboard berbasis website sehingga kondisi lingkungan kumbung dapat dipantau dengan lebih mudah dan akurat, langsung dari layar genggam warga. Informasi yang diperoleh dari sistem dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah perawatan, sementara pengelolaan budidaya tetap dilakukan oleh masyarakat.
Pengembangan sistem tidak berhenti pada pembuatan perangkat monitoring. Tim Teknik Elektro UNS juga melakukan perakitan dan pengujian sistem serta menyediakan panduan budidaya jamur tiram yang mencakup tahapan budidaya dan pemeliharaan kumbung. Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi dapat digunakan bersamaan dengan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan budidaya.
Implementasi sistem monitoring IoT di Dukuh Prayunan bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur untuk mengelola budidaya jamur tiram. Langkah ini menjadi wujud nyata akademisi dalam mendukung kemandirian pangan (SDG 2: Zero Hunger) serta penerapan teknologi tepat guna (SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure) demi menggerakkan ekonomi perdesaan yang berkelanjutan