SUKOHARJO – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan inovasi berupa mesin pencacah sampah organik sebagai solusi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan di Pondok Pesantren Hubbul Khoir, Kabupaten Sukoharjo. Program ini bertujuan meningkatkan efektivitas pengolahan sampah organik sekaligus mendukung pengembangan budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai bagian dari penerapan ekonomi hijau melalui teknologi tepat guna.
Pelaksanaan program didorong oleh tingginya jumlah sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur dan kegiatan sehari-hari di lingkungan asrama pesantren. Selama ini, sebagian besar limbah organik tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Padahal, sampah organik memiliki nilai guna sebagai bahan baku pakan larva Black Soldier Fly yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui penelitian yang dilakukan oleh tim PKM Program Studi Teknik Elektro UNS di bawah pimpinan Ir. Sutrisno, S.T., M.Sc., Ph.D., berhasil dikembangkan mesin pencacah sampah organik dengan kapasitas sekitar 50 kilogram per jam. Mesin tersebut mampu menghasilkan ukuran cacahan yang lebih seragam sehingga mempermudah larva BSF dalam mengonsumsi pakan. Kehadiran teknologi ini membuat proses pengolahan sampah organik menjadi lebih cepat, efisien, serta mendukung peningkatan produktivitas budidaya maggot.
Selain menyediakan teknologi tepat guna, tim UNS juga menyelenggarakan pelatihan bagi pengelola pesantren dan para santri. Materi yang diberikan meliputi pengoperasian mesin pencacah, teknik budidaya Black Soldier Fly, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pendampingan dalam penerapan sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan kapasitas sumber daya manusia meningkat sekaligus tercipta sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi di lingkungan pesantren.
Hasil implementasi program menunjukkan bahwa penggunaan mesin pencacah mampu mengurangi ketergantungan terhadap proses pencacahan secara manual, meningkatkan efisiensi pengolahan limbah organik, serta menghasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bernilai ekonomi. Dengan menerapkan konsep ekonomi sirkular, limbah organik tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah bagi pondok pesantren.
Program ini juga memberikan manfaat edukatif bagi para santri melalui pengenalan teknologi tepat guna, pengembangan jiwa kewirausahaan berbasis lingkungan, serta penerapan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pondok pesantren diharapkan dapat menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai lembaga pendidikan lainnya.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan transfer pengetahuan mengenai teknologi, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung pengembangan ekonomi hijau dan pengurangan limbah organik melalui penerapan teknologi inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (NA)