Tim BASKARA Teknik Elektro melalui program Hibah Pembelajaran Berdampak (Jarpak) bidang Pengabdian Masyarakat UNS 2025 berhasil merancang dan membuat alat pengusir burung berbasis frekuensi ultrasonik sebagai solusi atas permasalahan hama burung di lahan pertanian padi. Pengembangan alat ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan petani di Desa Kepyar, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, yang selama ini menghadapi serangan hama burung terutama menjelang masa panen.
Melalui program hibah tersebut, Tim BASKARA melakukan serangkaian riset, uji frekuensi, hingga pengembangan perangkat yang memanfaatkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi di atas 20 kHz. Frekuensi ini tidak terdengar oleh manusia, namun masih dapat dideteksi oleh burung dan menimbulkan efek ketidaknyamanan sehingga burung menjauh dari area persawahan. Dengan demikian, alat ini dapat mengusir burung tanpa menimbulkan kebisingan bagi pengguna maupun masyarakat sekitar lahan pertanian.
Salah satu keunggulan utama alat ini terletak pada sistem sumber dayanya. Perangkat dilengkapi panel surya 50 Wp dan baterai 14,8 V, yang memungkinkan alat beroperasi secara mandiri meskipun ditempatkan jauh dari jaringan listrik. Hal ini menjadikan alat dapat beroperasi secara mandiri tanpa bantan daya dari jaringan listrik dengan panel surya berfungsi sebagai pemasok utama energi, sementara baterai memastikan perangkat tetap aktif meski cuaca mendung atau minim cahaya matahari.
Selain itu, alat ini memiliki fitur pengendalian yang fleksibel. Pengguna dapat mengatur frekuensi secara manual, maupun secara otomatis melalui sistem referensi waktu real-time sehingga perangkat bekerja pada jam-jam yang paling diperlukan dimana burung paling banyak berdatangan. Alat ini juga dilengkapi dengan remote berbasis LoRa yang memungkinkan pengoperasian dari jarak jauh dengan konsumsi daya rendah.
Program Hibah Pembelajaran Berdampak ini berlangsung dari September 2025 hingga Januari 2026, di bawah bimbingan Ir. Agus Ramelan, S.Pd., M.T dan arahan juga mendapat arahan dari Kepala Desa Kepyar, Ibu Mei Rina Tripurnawati. Tim pengembang terdiri dari delapan mahasiswa Teknik Elektro UNS Angkatan 2023, yakni Tegar Bayu Segara selaku ketua tim, serta Alfredo Galdika, Ariq Rachman Burhani, Divo Setia Presdiantoro, Faturrohman Syah Al Firdaus, Galib Yanhadi Kaeliana, Hilal Jati Samudra, dan Roisa Hari Wijaya.
Setelah alat selesai dikembangkan dan diuji coba hingga mencapai performa optimal, Tim BASKARA melakukan sosialisasi cara penggunaan dan perawatan alat kepada kelompok tani Desa Kepyar sebagai pengelola utama. Pelatihan tersebut mencakup teknik pengoperasian alat, prosedur perawatan rutin, hingga standar keselamatan penggunaan. Tim juga memberikan pendampingan intensif pada fase awal implementasi untuk memastikan alat dapat digunakan secara mandiri dan efektif oleh para petani.
Ketua Kelompok Tani Desa Kepyar, Pak Pono, mengapresiasi upaya mahasiswa UNS. Ia berharap alat ini dapat bekerja optimal dan mengurangi beban petani, terutama saat musim panen ketika burung emprit sering menyerang tanaman. “Semoga alat ini benar-benar membantu kami menjaga padi dari serangan hama burung, khususnya saat menjelang panen,” ujarnya.
Sementara itu, Agus Ramelan selaku Dosen Pembimbing menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa melalui inovasi teknologi untuk membantu masyarakat. “Kegiatan ini adalah kontribusi berbasis inovasi dari mahasiswa untuk dapat memberikan dampak positif terhadap permasalahan yang dihadapi para petani, yaitu hama burung emprit. Diharapkan dengan inovasi ini, produktivitas panen semakin meningkat”, jelasnya.
Kedepannya, Tim BASKARA berharap inovasi ini dapat menjadi model percontohan bagi desa-desa lain yang menghadapi permasalahan serupa. Pengembangan lebih lanjut juga diharapkan mampu mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek pemberantasan kelaparan, karena teknologi ini berpotensi membantu meningkatkan produktivitas pertanian dengan meminimalkan kehilangan hasil akibat hama. terutama pada aspek pemberantasan kelaparan, karena teknologi ini berpotensi membantu meningkatkan produktivitas pertanian dengan meminimalkan menurunkannya hasil panen akibat hama.